Model Pembelajaran Discovery Learning pada Pembelajaran Matematika

matematika.guruindonesia.id - Pada kesempatan kali admin akan membagikan salah satu model pembelajaran yang mendukung Implementasi pendekatan saintifik dalam pembelajaran kurikulum 2013 terutama pada pelajaran matematika, yaitu Model pembelajaran Berbasis Penemuan (Discovery Learning). Postingan ini akan membahas tuntas apa itu model pembelajaran Discovery learning dan bagaimana pelaksanaannya, sehingga diharapkan setelah membaca uraian berikut ini Bapak/Ibu Guru dapat menerapkan Model Pembelajaran DiScovery Learning dalam Kegiatan Pembelajaran Matematika.
Model Pembelajaran Discovery Learning pada Pembelajaran Matematika
Model Pembelajaran Discovery Learning 

1. Pengertian dan konsep

a. Definisi
Pada prinsipsinya model pembelajaran Discovery learning memiliki prinsip yang sama dengan model pemnbelajaran inkuiri (inquiry) dan model pembelajaran Problem Solving. Tidak ada perbedaan yang mendasar pada ketiga model pembelajaran tersebut. Pada Model Discovery Learning lebih menekankan terhadap ditemukannya konsep atau prinsip yang tidak diketahui sebelumnya, masalah yang akan dihadapkan kepada siswa adalah semacam masalah yang direkayasa oleh guru.

Pada Discovery Learning materi yang akan disampaikan tidak disajikan dalam bentuk  akhir, akan tetapi siswa didorong untuk mengidentifikasi dan menyelidiki apa yang ingin diketahui dilanjutkan dengan tahapan mencari dan mengumpulkan informasi mandiri kemudian mengkonstruksi apa yang mereka ketahui dan mereka pahami dalam suatu bentuk final. 

Pembelajaran Model Discovery Learning sangat cocok dengan implementasi kurikulum 2013 karena penggunaan Discovery Learning, ingin mengubah paradigma dari kondisi belajar pasif menjadi belajar aktif dan kreatif. Mengubah pembelajaran dari berpusata kepada guru menjadi berpusat kepada siswa. Merubah modus Ekspository (siswa menerima informasi utuh dari guru) ke modus Discovery (siswa menemukan informasi secara sendiri).

b. Konsep
Hal yang harus diperhatikan dalam proses belajar, menurut Bruner adalah mementingkan partisipasi aktif dari setiap siswa dan mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses belajar diperlukan lingkungan yang memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi. lingkungan seperti ini disebut jugaDiscovery Learning Environment, yaitu suatu keadaan lingkungan yang memungkinkan siswa dapat melakukan kegiatan eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal sebelumnya atau pengertian baru yang mirip dengan apa yang sudah diketahui. Lingkungan seperti ini menunjang siswa dalam proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif.

Dalam model pembelajaran Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk final. Siswa dituntut untuk melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan, menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan, serta membuat kesimpulan-kesimpulan. Bruner mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih, 2005:41). 

2) Langkah-langkah Operasional (sintaks) Implementasi dalam Proses Pembelajaran.

Langkah-langkah dalam penerapan model discovery learning di kelas adalah sebagai berikut.
(a) Perencanaan, pada tahap ini pada model ini meliputi  hal-hal sebagai berikut. 
  1. Menentukan tujuan pembelajaran sesuai dengan materi yang akan disampaikan.
  2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya  belajar, dan sebagainya)
  3. Memilih materi pelajaran.
  4. Menentukan tema-tema yang harus dipelajari oleh siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi).
  5. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas, dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
  6. Mengatur tema-tema pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkret ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik, sampai ke simbolik.
  7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.
Sintaks Model Pembelajaran Discovery Learning
Sintaks Discovery Learning


(b)  Pelaksanaan
Tahapan pelaksanaan terdiri dari:
  • Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya dan timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Guru dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap
ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dengan demikian seorang Guru harus menguasai teknik-teknik dalam memberi stimulus kepada siswa agar tujuan mengaktifkan siswa untuk mengeksplorasi dapat tercapai. 
  • Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah)
Setelah dilakukan stimulation oleh guru, tahapan berikutnya yaitu memberi kesempatan kepada siswa untuk melakukan identifikasi sebanyak-banyaknya masalah yang sesuai  dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis awal (jawaban sementara atas pertanyaan masalah), yang akan dibuktikan kebenarannya. 
  • Data collection (pengumpulan data)
Pada saat siswa melakukan eksperimen atau eksplorasi, guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. untuk memperoleh data dapat dilakukan dengan berbagai diantaranya membaca literatur, mengamati objek, wawancara dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya.

Data processing (pengolahan data)
Kegiatan ini siswa melakukan pengolahan data dan informasi yang telah yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan bagainya, lalu ditafsirkan.
  • Verification (pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara teliti dan untuk membuktikan benar atau salahnta hipotesis yang telah ditetapkan sebelumnya, dihubungkan dengan hasil tahapan sebelumnya yaitu pengolahan data processing. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek: terjawab atau tidak, terbukti atau tidak.
  • Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalisasi/menarik kesimpulan adalah proses penarikan kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi maka  dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. 

Baca juga:
Pendekatan Saintifik dalam Pembelajaran Matematika Kurikulum 2013

3) Sistem Penilaian

Penilaian dapat dilakukan dengan menggunakan model baik tes maupun nontes. Penilaian dapat berupa penilaian pengetahuan, keterampilan, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa. 

Jika bentuk penilainnya berupa penilaian pengetahuan, maka dalam model pembelajaran discovery dapat menggunakan tes tertulis.  Jika bentuk penilaiannya  menggunakan penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja siswa, maka pelaksanaan penilaian  dapat menggunakan format penilaian sikap berupa pengamatan terhadap perilaku dan unjuk kenerja pada saat melakukan kegiatan pembelajaran

Selain Model Pembelajaran Discovery Learning pada Pembelajaran Matematika, seorang dapat menggunakan beberapa model lain yang relevan dengan materi yang akan diajarkan pada siswa, yang akan admin share pada kesempatan berikutnya. Semoga bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "Model Pembelajaran Discovery Learning pada Pembelajaran Matematika"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel